Posted in Ihat's Diary

Aku Bercerita

Pare, 13 Mei 2019

Bertemu denganmu, berbincang denganmu walau itu hanya beberapa detik, lalu melihatmu dari jarak dekat kini menjadi candu bagiku. Ingin lagi, lagi, dan lagi. Dan tentangmu kini sudah mengisi dalam sebuah lagu yang jika diputar maka otak dan hatiku langsung tertuju padamu.
Hai kamu! Yang awalnya aku sangat membencimu setengah mati, kini mulai menggerogoti bagian hatiku yang lain. Bahkan aku tak mengerti mengapa setiap bertemu denganmu jantungku berdegup cepat bahagia.
Ya Tuhan, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi jatuh cinta tapi mengapa perasaan ini muncul begitu saja? Mengapa? Aku tahu konsekuensi dari jatuh hati adalah patah hati. Dan aku sudah patah hati diawal cerita ini berjalan. Fakta bahwa nyatanya dia akan segera menikah.
Ya sudahlah, aku hanya bisa nyengir menahan pilu dihati. Nasibku begini amat yaa.
Tapi disisi lain aku menikmati perasaan ini. Perasaan yang aku pendam dalam hati dan biar semuanya melebur menjadi debu yang nantinya akan bertebaran bersama angin yang membawanya. Jika memang sudah digariskan, bisakah kamu menolak? Kalau pun tidak, yo wes. Nda apa-apa. Bisa jadi ada hal lain yang sedang menantiku dibelahan bumi sana. Keep positive thinking aja. The best of your is saat kamu pasrah dengan ketentuanNya. Bukan begitu mister? Hahaa. Versiku begini Allah is the best planner.
Maafkan aku yang lancang tiba-tiba menaruh hati padamu. I swear, I never plan for finding someone who can make me fall in love here. No. But, can you decide when you fall in love? It isn’t right?
I know, this is just no forever. Everything can be changed. Am I right?

Ya Allah entah aku harus bersyukur atau bersabar, saat doaku untuk bertemu dengannya selalu dikabulkan. πŸ˜‚πŸ˜‚

Hai Mr. I just have 14 days here. And today, I feel very happy when I see you although so far hmm. You weared green skirt. So handsome. Aaaaa πŸ˜†πŸ˜†

Advertisements
Posted in Fiction

Stick Music

https://pixabay.com/en/drum-sticks-music-drum-instrument-933186/

“Matikan rasa, nyalakan akal.” Katamu buatku berhenti sejenak untuk merenungkan.

Sore. Matahari mulai menyorot dari arah barat. Aku mengusap keringat dengan punggung tanganku yang kini mulai bercucuran dipelipis lalu duduk dipinggiran gedung. Semua santri sudah meninggalkan gedung serbaguna menuju asrama mereka masing-masing menyisakan aku dan beberapa pengurus asrama lainnya yang masih sibuk membereskan gedung sehabis penutupan acara akbar ini.

“Anak-anak bekas stick musik ditaruh dimana aja. Jadinya hilang kan.” Tiba-tiba kamu datang mengomel soal stick alat musik yang hilang entah kemana.

“Udah coba ditanyain ke anak-anak acara?” tanyaku.

“Udah. Katanya dikelas 9 tapi enggak ada, terus bilang lagi dikelas 11 enggak ada juga. Sampai ke kelas 7 gak ada juga.” Jawabmu sambil menggeleng-gelengkan kepala, tak mengerti mengapa stick alat musik saja cepat sekali berpindah tangannya.

“Hebat ya, stick nya bisa move secepat itu.”

“Iya enggak kayak kamu susah move on. Eh,” jawabmu ceplos dengan tangan refleks menutup mulutmu sambil tersenyum.

“Eh?” Kataku sambil tersenyum kaget. “Ya kalau bisa secepat itu mau.”

“Gampang kok, matikan rasa nyalakan akal.” Katamu santai dan aku berfikir keras mencerna ucapanmu.

“Mm.. Itu sih teorinya. Justru yang terjadi akal yang mati dan rasa yang tetap hidup.” Jawabku.

“Tenang. Segala sesuatu juga udah ada kadarnya. Ngapain harus dipaksakan coba? Lepaskan saja biar Tuhan ganti yang lebih dari apa yang udah kamu lepaskan.” Katamu sungguh-sungguh sambil menatap kedua bola mataku buatku gugup seketika.

“Do’akan saja semoga semuanya bisa terlepas tanpa ada sisa lagi.”

“Siipp. Nah gitu dong. Biar enggak mellow lagi.” Katamu lalu pergi meninggalkanku yang kebingungan.

“Matikan rasa nyalakan akal. Mungkin harus kucoba. Bukan mungkin lagi sih tapi harus.” Kataku dalam hati sambil melihat punggungmu yang kini sudah menjauh dari posisiku.

February 13rd, 19

Ihat Azmi

Posted in Cerita Yang Tak Pernah Usai

Haruskah Seperti ini?

3 November 2010

“Enggak usah manyun. Jelek.” Ucap Ayahku saat aku hendak berpamitan.

“Menang dan kalah sudah biasa. Emang yang bisa menentukan Nisa menang atau kalah siapa?” Sebuah pertanyaan yang tak butuh jawaban langsung dariku. Tentu saja semuanya sudah digariskan oleh Allah. “Yang terpentingkan Nisa sudah berusaha semaksimal mungkin, berdoa juga. Sisanya kita serahkan semuanya kepada Allah. Biar Allah yang tentukan.” Aku hanya diam mendengarkan. Rasanya sejuk sekali kalau Ayah sudah menasehati seperti ini.

“Kalau nanti kamu enggak jadi juara, enggak apa-apa. Berarti belum rezeki kamu. Itu artinya keberhasilan yang tertunda.”

Dan kenyataannya memang benar. Teman-temanku yang mengikuti perlombaan yang lain mereka lolos 3 besar dan mendapatkan piala. Sementara aku? Sudah dipastikan tentunya dengan insiden demam panggung kemarin mana mungkin aku lolos 3 besar? Dan iya faktanya aku hanya bisa menonton teman-temanku yang berada diatas panggung sambil memegang piala.

“Coba kalau kemarin enggak demam panggung. Nisa bisa jadi juara.” Celetuk guru pembimbingku dan entah kenapa rasanya aku sedikit tersinggung.

“Sini foto dulu,” ajak guruku kepada semua santri yang ikut lomba. Saat aku akan bergabung untuk berfoto, guruku langsung mengerutkan keningnya.

” Nisa, kamu kan enggak jadi juara. Jadi yang difotonya yang juara aja.” Aku menelan ludah lalu keluar dari barisan teman-temanku dan ikut berdiri disamping panitia yang akam memotret.

“1 2 3,” ucap panitia memberi aba-aba sebelum di jepret.

“Nanti cetakannya akan dikirim ke sekolah ya pak,”

“Iya terima kasih.”

Perih hatiku.

Jadi seperti ini?

Hanya untuk mereka yang juara?

“Udah jangan sedih. Kita menang juga berkat dukungan kamu kok!” Hibur teman-temanku.

“Eh liat! Itu kakak panitia yang kamu incar kan?” Tunjuk temanku ke arah kakak panitia laki-laki yang sedang berlari-lari kecil terlihat seperti terburu-buru.

Aku hanya tersenyum kecut.

Haruskah seperti ini perlakuan seorang guru terhadap muridnya?

Dan hari ini aku merasa tersisihkan!

Bahkan aku merasa terasingkan.

Posted in Cerita Yang Tak Pernah Usai

Aku Gagal

November 2010

Aku gagal!

Aku gagal hari ini!

Aku nervous, demam panggung dan semua materi yang telah kuhafal jauh-jauh hari mendadak hilang semua.

Aku menatap satu persatu dewan juri yang mencoba untuk memberiku semangat agar aku kembali melanjutkan speechku. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala tak sanggup untuk melanjutkan speech contestku. Lalu aku menatap seluruh audience yang mulai riuh bertepuk tangan membuatku tambah gemetar lagi.

“I think this enough from me. Thanks for your attention. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.”

Hanya pembuka, tanpa isi, dan langsung ku tutup.

Aku langsung berhamburan turun dari podium, lari menuju ayahku yang sedari tadi menyaksikan penampilanku. Aku memeluknya sembari sedikit terisak. Dan semua mata tertuju padaku.

“Tidak usah menangis, kamu hanya perlu latihan yang lebih keras lagi,” ucap Ayah menenangkanku.

πŸ“πŸ“πŸ“

βœ‰οΈ Kak Iqbal

Ttp smngat ya! Enggak ush nangis. Jdkan pnglaman sbg guru utk kedepannya. Kakak ttp bangga kok sm km! πŸ™‚

Sebuah pesan singkat masuk dari Kakak kelasku itu. Aku tersenyum saat mendapatkan support darinya. Eh sebentar, tapi kok dia tahu dari siapa ya? Diakan enggak hadir pas aku tampil tadi siang.

βœ‰οΈ Me

Iya kak. Thanks

tp kok kakak tau dr mn?

Blip!

βœ‰οΈ Kak Iqbal

Iya sm2. Jg nangis ya πŸ™‚ mnang enggaknya suatu perlombaan udh biasa. mnang jd abu klh jd arang kan? Gk ush tnya. Kakak bnyak mata2 nya :p

βœ‰οΈ Me

yeh! :p

Aku kembali teringat kejadian tadi siang. Memalukan sekali, fikirku. Terbayang olehku besok adalah pengumuman kejuarannya. Aku sudah pasti dinyatakan kalah. Sementara teman-temanku yang lain yang mengikuti perlombaan lain mereka tampil dengan sangat memuaskan. Bagus! Dan pastinya harapan untuk menang itu ada.

Aaahh…

Rasanya aku tak ingin bertemu dengan hari esok!

Posted in Cerita Yang Tak Pernah Usai

Di Penghujung Oktober

Di penghujung Oktober 2010

Ada debar yang kurasa setiap kali berhadapan dengan kakak kelasku ini. Debar yang menjalar membuat irama nafasku tak beraturan, tangan yang gemetaran, mulut yang seolah terkunci rapat, dan pandangan mata yang beralih kesana-kemari, sukar bagiku untuk menatapmu.

“Jangan lupa persyaratan lombanya, besok ya.” Ucap kakak kelasku itu mengingatkanku kembali.

“Ini kak persyaratannya,” kataku dikeesokan harinya sembari menyerahkan formulir dan juga persyaratan lomba lainnya.

“Ok, syukran. Semoga sukses.” Balasnya sambil menerima berkas persyaratanku lalu tersenyum manis dan meninggalkanku begitu saja membuatku melongo seperti orang bego.

Hai! Namaku Anisa, usiaku 14 tahun. Abg labil yang masih mencari jati diri.

Ada satu hari yang tak akan pernah kulupa disepanjang hidupku. Hari yang menjadi titik awal mula cerita ini hidup. Hari yang terkadang kusyukuri kehadirannya dalam hidupku namun disisi lain selalu ku sesali karena aku tak pernah menemukan arti hadirmu dihidupku.

Untuk cerita yang tak pernah usai,

Posted in Catatan Putih Merah

Sorry

Senin, 1 Juni 2009

Hai! Untuk hari ini biasa aja enggak ada yang special. Oh iya yang urusan kemarin, soal Dilla sama Maulana kita yang ikut ke rumah bu Heni kemarin harus tutup mulut. Sorry ya, Ummu sama Talitha aku enggak bisa ngungkapin kebenaran ini.

Posted in Catatan Putih Merah

Petualangan

Minggu, 31 Mei 2009

Hai! Seneng banget! Soalnya tadi tuh pada main ke rumah bu Heni. Jauh banget rumahnya. Jalannya nanjak gitu, kayak mau ke gunung. Yang ikutan cuma 9 orang. Tapi seru lho! Awalnya kira kumpul dulu disekolah terus bareng-bareng naik angkot. Pas sampai dirumah beliau, kita istirahat sebentar sambil makan makaroni 1 bungkus gede dan langsung habis :D. Dilanjut dengan masak, makan-makan dan udah itu kita beresin lagi. Kita rebahan lagi sambil dengerin musik. Ulvi kan pinjem handphone nya Maulana ya, eh Ulvi malah baca kotak masuknya. Ternyata.. Diam-diam Dilla selama ini suka sama Maulana. Dan Maulana nya juga iya sama, suka ke Dilla. Huft, untung Talitha enggak ikut. Bisa sakit hati dia kalau tau kabar ini.

Karena kesal dirumah terus kita putuskan untuk main keluar rumah. Dan dibelakang rumah Bu Heni itu ada persawahan yang luas banget. Kita jalan-jalan aja melewati sawah-sawah yang terbentang luas, eehh.. Maulana yang mimpin kita jalan. Pas ditengah-tengah perjalanan dia nemuin ular warna item. Sontak bikin kita panik. Tapi untungnya ularnya enggak ganggu perjalanan kita.

Rame banget pokoknya! Susah dijelaskan oleh kata-kata hehee.