Posted in Puisi

Kecewa

Ada sesak didada saat aku mengetahui kebenaran ini

Kebenaran yang tak bisa ku sangkal

Kebenaran yang tak bisa ku tutupi lagi

Hatimu yang nyatanya jatuh kedalam pelukannya

Hatimu yang nyatanya tak pernah dipersembahkan untukku

Tuhanku

Bolehkah aku kecewa atas jalan ini?

Pantaskah aku jika menyalahkan skenario-Mu?

Apakah aku selama ini salah?

Terlalu berharap padanya? Bukan padaMu?

March 24th, 2019

Ihat Azmi

Advertisements
Posted in Puisi

Aku Pamit

Terima kasih untuk segela perhatian yang pernah tercurah

Terima kasih untuk kenang yang akan menjadi kenangan

Terima kasih telah buatku melambung tinggi walau akhirnya aku kembali terhempas jauh

Aku pamit dari hatimu

Aku pamit dari kehidupanmu

Sebelum kamu benar-benar pergi meninggalkanku

Nyatanya kamu hanya tamu yang singgah sementara

Pilihanmu berhak kau perjuangkan

Karena pada nyatanya baik aku, kamu, dan dia tak bisa memilih

Pada siapa hati ini akan singgah

Sebelum semuanya jatuh terlalu dalam

Maaf, aku pamit

Terima kasih :’)

Buanamekar yang akan selalu dikenang,

Ihat Azmi

Posted in Puisi

Hanya Seorang Tamu, Tak Lebih

Apa yang salah dari hati?

Mengapa aku harus mengalami ini berulang-ulang? Mengapa?

Saat aku berusah payah berlepas diri dari belenggu masa lalu perlahan Tuhan mengirimmu memasuki duniaku

Mewujudkan beberapa mimpiku yang sedari dulu kudamba bersamanya tapi hanya ilusi yang berhasil kuciptakan

Tetapi bersamamu bukan lagi sebatas ilusi, melainkan nyata yang buatku bertanya-tanya dalam tanya

Apa maksud dari semua ini?

Apa maksud dari semesta merayakan mimpi-mimpiku bersamamu?

Satu hal yang buatku kembali berhati-hati, kamu nyatanya sedang terluka. Terluka karena cintanya. Terluka karena kenangannya. Terluka karena nyatanya dirimu amat teramat sayang menyayanginya.

Tuhanku, aku hanyalah seorang wanita biasa. Yang mudah terpengaruh juga mudah terpedaya. Jangan jatuhkan hatiku padanya, karena aku tahu ini hanya akan membuatku semakin terluka. Sadarkan aku bahwa sebenarnya dia adalah seorang tamu yang hanya singgah lalu pergi.

Untuk hati yang rapuh,

Ihat Azmi

Posted in Puisi

Hanya Ilusi

Maafkan aku

Maafkan aku yang kini kembali menyelami perasaan ini

Perasaan yang telah lama ku tinggalkan

Perasaan yang hanya menyisakkan air mata

Perasaan yang tak tersampaikan

Dan kamu lebih memilih meninggalkan semua

Karena terlanjur sakit yang dihadiahinya

Aku selalu meminta untuk bertemu

Tapi tak kunjung jadi nyata

Entah kamu meminta yang berbeda

Membuat doa kita saling bersebrangan dilangit sana

Aku tahu setiap keinginan selalu ada konsekuensinya

Maka keinginanku adalah lukaku

Dan sayangnya aku terlalu takut untuk mengulang itu semua

Maaf

Maaf jika kamu adalah ilusi yang berhasil kuciptakan

Jika dalam nyata kita tak bisa jumpa

Maka biarkan ingatanku yang merangkai bersamamu

30/12/2018

11.45 pm

Disaat yang ditinggalkan kembali hidup dalam ingatan

Ihat Azmi

Posted in Puisi

Di Penghujung Desember

Untuk beberapa pertanyaan yang sudah terjawab

Terima kasih

Walau nyatanya, hatiku masih enggan pergi darimu

Maafkan atas kebodohanku

Maaf

Maaf karena ternyata diam-diam aku masih mencintaimu

Masih mengharapkanmu

Bahkan terkadang namamu selalu kuselip disela-sela pintaku

Maaf

Nyantanya meskipun kini sudah dipenghujung Desember

Dipenghujung akhir tahun

Nyatanya perasaanku belum sampai dipenghujung

Aku tahu kamu sudah tak mencintaiku

Bahkan mungkin bagimu, bisa jadi aku hanya pelarianmu semata

Nyatanya, faktanya kamu tak pernah mencintaiku bukan?

Aku tahu itu, aku sadar itu

Aku ingin lepaskanmu, lepas dari semua belenggu kenangan lama

Harus bagaimana lagi?

Aku tahu aku sudah lelah

Tapi bara dalam hati tak pernah bisa dipadamkan

Ku kira hujan dipenghujung Desember akan menghapus segala kenangan tentangmu

Nyatanya?

Tidak!

Penghujung Desember tetap menjadi penghujung akhir tahun

Bukan penghujung dari segala perasaanku

Ihat Azmi

19/12/18

Posted in Puisi

Kabar Menyesakkan

Entah mengapa ada rasa sesak saat aku mendapatkan kabar itu

Kabar yang memang tak seharusnya sampai padaku

Entah benar atau hanya ingin membuatku terbangun dari mimpi

Jikalau memang benar, sudahlah lagi pula itu bentuk dari salah satu permintaanku pada Tuhan

Dunia nyaris roboh

Hati serasa hampa

Fikiran melayang kosong

Apa yang terjadi padaku?

Sedih? Kecewa? Marah? Bahagia? Atau bagaimana?

Nyatanya melepaskanmu begitu berat bagiku

Padahal jelas-jelas dan sudah tergambar jelas

Kamu sudah menentukan hidupmu sendiri untuk tidak denganku lagi

Dibawah langit malam,

12/12/18

Ihat Azmi