Perlahan Tapi Pasti

Hai! It’s been a long time I never write here. And tonight I wanna tell you about this day. Yups, sorry if my grammar bad, I just want to share about what I feel. Just it.

Ok. Jadi ceritanya malam tadi aku habis kumpulan, mini meeting gitu lah disebuah caffe. Firstly ya ngomong ngaler-ngidul gitu and finally baru ngomong serius, I mean discuss about the important thing. Yang bikin aku melongo terus ngena banget itu pas beliau bilang gini,

“Dimulai dari hal kecil tapi continue. Dari pada hal besar tapi hanya untuk hari itu saja. Enggak usah peduli orang mau ngomong apa, kita tinggal fokus sama jalan yang akan kita tempuh dan tujuan kita di depan. Insya allah, pasti kita akan sampai disana.”

Tiba-tiba aku inget ulang tahunnya Ruang Guru yang ke 5. I’ve read their story, bahwa mereka juga sama buat sampe ke tangga sukses itu butuh perjuangan yang tidak sedikit. Pas awal-awal berdiri kan mereka juga banyak banget tantangannya (for full story you can visit their account, waktu itu aku baca dari akun ig nya Kak Belva sama Kak Iman Usman), cuma ya mereka terus istiqomah sampai bisa sesukses sekarang.

Sampai akhirnya aku merasa termotivasi dengan ucapan beliau itu. Akhir-akhir ini jujur, actually aku stuck banget buat nulis. Sebenarnya ideku ngalir sih, cuma pas mau diekspresikan lewat tulisan entah mengapa semua ide itu kabur begitu saja. Apalagi semenjak beberapa komenan negatif bermunculan dan itu bikin aku down banget. Bahkan aku hampis less confidence with my self. This is like what I write that’s nothing gitu. But, tonight I got the new spirit for writing my story again. Aku hanya harus berjalan di jalanku tak peduli ocehan mereka, terus melangkah dan terus maju. Ok before deadline stop my time for writing.

Sorry, kalau tulisannya gaje begini. The main point is every single thing is started from the little thing but continue.

Itu aja sih. Udah segitu. Any else? Enough ya. I will continue my imagination. Hahaa. Thank you sir for inspiring me.

Good night.

From me,

Ihat Azmi

Advertisements

Si Senyum Sinis

Entah kamu menyadarinya atau tidak dan saat itu aku lupa. Ku kira tulisan tentangmu masih tersimpan dalam draft nyatanya sudah ku posting dan berada di urutan teratas. Aku hanya diam dan juga harap-harap cemas saat kamu membacanya dan menscrol sampai bawah.

Hai, hari ini aku pulang. Genap sudah 30 hari ini. Ku kira kamu akan datang ke stasiun, mengantarku pulang lalu say good bye. Nyatanya kamu disana tak mengantarku. Tahu begitu pagi tadi mungkin aku takkan menyia-nyiakan percakapan singkat kita. Sayangnya, diakhir kamu malah mengabaikan ku.

Mulai besok aku takkan lagi melihatmu makan sahur didepan pintu dapur, takkan lagi melihatmu yang selalu berlalu lalang di depan kelas pagi membuatku selalu tersenyum acap kali melihatmu, atau melihatmu menggunakan baju koko berjalan terburu-buru menuju Harvard room untuk sholat. Mungkin aku akan rindu dengan panggilanmu, “Ukh ukh atau us us.”

Aku suka saat melihatmu bercerita. Melihat matamu yang berbinar lalu ditengah-tengah pembicaraan kamu akan tersenyum sinis menampilkan deretan gigi kecilmu yang rapih. Buatku hmm.. Menahan greget. Atau melihatmu makan dengan lahap. Atau barang kali melihat penampilanmu yang kusut karena belum mandi.

“Have you taken a bath sir?” Tanyaku saat kamu melintas dihadapan kita semua.

“Yes I have,” jawabmu lambat sambil berlalu meninggalkan senyum sinismu.

Atau enggak tawa lepasmu selepas meledekku di acara bakar jagung. Aku kaget bukan main melihatmu tertawa lepas seperti itu. Aahh.. Pokoknya I will miss you sir. Berharap sama Allah pengen ketemu lagi pokoknya. Titik.

Hai terima kasih. Terima kasih karena telah membakar kembali semangatku dalam menggapai mimpi-mimpi.

Kereta menuju perjalanan Tasikmalaya,

Ihat Azmi

Aku Bercerita

Pare, 13 Mei 2019

Bertemu denganmu, berbincang denganmu walau itu hanya beberapa detik, lalu melihatmu dari jarak dekat kini menjadi candu bagiku. Ingin lagi, lagi, dan lagi. Dan tentangmu kini sudah mengisi dalam sebuah lagu yang jika diputar maka otak dan hatiku langsung tertuju padamu.
Hai kamu! Yang awalnya aku sangat membencimu setengah mati, kini mulai menggerogoti bagian hatiku yang lain. Bahkan aku tak mengerti mengapa setiap bertemu denganmu jantungku berdegup cepat bahagia.
Ya Tuhan, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi jatuh cinta tapi mengapa perasaan ini muncul begitu saja? Mengapa? Aku tahu konsekuensi dari jatuh hati adalah patah hati. Dan aku sudah patah hati diawal cerita ini berjalan. Fakta bahwa nyatanya dia akan segera menikah.
Ya sudahlah, aku hanya bisa nyengir menahan pilu dihati. Nasibku begini amat yaa.
Tapi disisi lain aku menikmati perasaan ini. Perasaan yang aku pendam dalam hati dan biar semuanya melebur menjadi debu yang nantinya akan bertebaran bersama angin yang membawanya. Jika memang sudah digariskan, bisakah kamu menolak? Kalau pun tidak, yo wes. Nda apa-apa. Bisa jadi ada hal lain yang sedang menantiku dibelahan bumi sana. Keep positive thinking aja. The best of your is saat kamu pasrah dengan ketentuanNya. Bukan begitu mister? Hahaa. Versiku begini Allah is the best planner.
Maafkan aku yang lancang tiba-tiba menaruh hati padamu. I swear, I never plan for finding someone who can make me fall in love here. No. But, can you decide when you fall in love? It isn’t right?
I know, this is just no forever. Everything can be changed. Am I right?

Ya Allah entah aku harus bersyukur atau bersabar, saat doaku untuk bertemu dengannya selalu dikabulkan. 😂😂

Hai Mr. I just have 14 days here. And today, I feel very happy when I see you although so far hmm. You weared green skirt. So handsome. Aaaaa 😆😆

Tasikmalaya, March 27, 2019

Dear diary,

Entah hari keberapa dari kebenaran itu terungkap. Aku masih saja sulit untuk menerimanya. Aku harus bagaimana? Rasanya menyakitkan sekali. aku seperti kehilangan segalanya. Tapi disisi lain aku harus bisa mengendalikan isi hatiku, emosiku, juga kecewaku. Aku ingin menangis, tapi entah mengapa rasanya sulit begitu. Sadar, diantara kita masih bermain kata juga rahasia. Kamu yang enggan menyakiti perasaanku juga sahabatku yang entah polos atau memang benar-benar polos masih tak bisa menjaga perasaanku.

Aku harus bagaimana? Rasanya pertanyaan ini yang terus menghantuiku. Kalian tahu? Setiap malam adalah hal yang paling mengerikan bagiku. Mimpi-mimpi itu sering datang menghantui. Lalu kala mentari menyapa nyatanya aku enggan untuk beranjak. Karena mimpi-mimpiku semalaman itu seolah mewujudkannya tepat didepan mataku. Dan aku belum siap untuk menerima semua kenyataannya.

Tuhanku, salahkah jika aku masih sulit untuk menerima kebenaran ini? Menerima ketentuan-Mu ini? Aku hanya ingin berlari meninggalkan semua kenangan buruk ini. Menyaksikan mereka kompak dimedia sosial rasanya aku ingin memblokir keduanya. I hate them! And I hate myself 😥

Dan aku kembali lagi rapuh! Puas? Belum lagi tangisku yang sulit untuk bisa ku bagi. Semuanya masih mengendap dalam hati yang paling dalam. Dulu¸hari-hari ini selalu kunanti tapi kini hari-hari tersebut yang selalu aku ingin hindari. Sesak, perih, juga kecewa. Semuanya bercampur dan menyayat-nyayat hati. Shit!

Aku merasa saat ini sedang berada dititik terbawah dalam hidupku. Help me please to find out the solutions. I just wanna run away. I’m tired, I’m dissampointed. And I’m weak.

Harus dengan cara apalagi agar rasa kecewaku bisa tersampaikan? Harus dengan cara apalagi? Semoga kesempatan itu datang. Padaku juga padamu. Untuk saling merelakan atas hal yang telah digariskan-Nya.

Hanya saja aku belum siap untuk bertemu denganmu. Itu saja. Aku masih perlu waktu untuk bisa kembali bertatap muka denganmu.

Untuk diri yang terus diuji,

Jadi hari ini aku benar-benar menemukan dirimu begitu terpuruk. Tak apa kan aku menyebutnya begitu? Kamu yang biasanya selalu nampak dewasa dari aku, hari ini kamu jauh berubah bak anak kecil yang tak bisa membeli sebuah balon. Kamu yang biasanya bisa meredam amarahmu, tiba-tiba kamu upload kemarahanmu di media sosial menyisakan tanda tanya bagi orang-orang disekelilingmu.

Ada apa denganmu?

Aku berusaha mencairkan suasana, melupakan sejenak permasalahan diantara kita. Tapi jawabmu,

Never better.

Lalu aku harus bagaimana? Sementara kamu enggan bercerita padaku.

Masih saja ditahan? Jika dengan berbagi sebenarnya bisa meringankan? Ihat Azmi

Tapi ya sudahlah, itu keputusanmu.

Bahkan hubunganku dengan dia kini berubah menjadi asing. Sayang ya, yang dulunya dekat tiba-tiba harus menjauh demi meredam harapan.

Oh iya satu lagi.

Setelah aku tak sengaja membaca media sosialnya, tiba-tiba sama dia nya dihapus. Hihii!

Tuh kan tebakanku benar, permintaan maaf itu ditujukan buat aku kan? Hahaaa. Ya sudahlah aku memang sudah kegeeran tingkat dewa.

Yup, selamat malam!

Dari aku yang lagi patah gigi,

Ihat Azmi