Batasi Komunikasi

Batasi komunikasi.

Finally, I decide to do that although my felling is nano-nano gitu, campur aduk.

Actually, I really really doubt on my decision. This is true or false? Sampai akhirnya gak tahu dapat keberanian dari mana aku memutuskan hal itu. Berat sih tapi kalau hal itu bikin diri aku sendiri jadi unwell gimana?

Jadi ceritanya aku lagi deket sama seorang cowok. Dari awal juga aku sendiri yang bilang kalau aku males pacaran karena yang namanya pacaran ujung-ujungnya putus dan juga belum siap dengan komitmenan untuk mengarah ke jenjang pernikahan. And he also says like what I said. Awalnya sih ya aku pribadi there is no special sampe ya udah deh kita jalani aja kedekatan ini. Karena emang kita beda daerah jadi komunikasi cuma sebatas chat, video call, telfon. Aku fikir karena sebatas teman jadi kayaknya chat juga seperlunya aja kali ya but in my opinion makin ke sini itu kontekan kita jadi sering banget bahkan to be honest ini kayak orang pacaran gitu. Lalu aku mikir lagi, ini cowok punya rasa gak sih sama aku? Atau sebenarnya dia cuma lagi nyari temen buat penghibur sepinya? Di awal-awal sih aku ya seneng lah ditelfon sama dia, diperhatiin lewat chat, sampe dia mau aja dengerin cerita aku, keluh-kesahnya aku. Aku harap dengan keterbukaannya aku bisa bikin dia terbuka juga sama aku. But I”m wrong dan dia susah banget buat cerita dengan alasan ya aku gini orangnya, pendiem. Dari sanalah aku berfikir keras lagi, ngapain aku share kehidupan aku sama orang yang emang gak tahu dia itu posisi dikehidupan aku sebagai apa? Aku punya beberapa temen cowok dan aku sendiri belum pernah nge share hal-hal yang termasuk ranah privacynya aku. Am I stupid, right? Nah dari situlah aku sengaja gak mulai bahas topik pembicaraan, cuma ya generally aja. Habis itu tiap dia kirim chat, aku balas agak lama juga, sampai akhirnya aku malas buat angkat telfonnya dia apalagi video call dari dia. Dan satu hal yang sampai akhirnya bikin aku mikir keras lagi adalah dia masih nyimpen foto mantannya. Waww.. Udah deh pokoknya pas tahu itu perasaan aku tuh kayak diobrak-abrik.

Sebenarnya gak ada yang salah sih dari dia. Akunya aja yang udah keburu nyaman dan aku juga gak nyangka kalau aku sama dia bakal sedekat ini. Bingung juga ini ceritanya harus gimana. Aku belum bisa lepas buat ceritain semua ini. Karena dari beberapa pengalaman sebelumnya udah dipastikan aku sendiri yang mulai keburu nyaman, orang ya dianya gak punya perasaan apa-apa.

From this, I got the points. Urusan kedekatan cewek sama cowok gak jamin kalau itu cuma sebatas teman pasti salah satunya ada yang udah ngerasa nyaman duluan bahkan mereka terlihat seperti orang pacaran.

Setelah ini, aku gak mau ngulangin hal yang sama lagi. Untungnya sebelum aku jatuh terlalu dalam, Allah udah negur duluan. Dan satu hal lagi, perasaan itu dinamis. Kapanpun, dimanapun pasti akan berubah.

For my self,

Ihat Azmi

 

One Reply to “Batasi Komunikasi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s