Posted in Surat

Surat Terakhir

Dear kamu yang tak suka hujan,

Hai!

Apa kabar? Lama tak bersua dengan kata. Kabarku baik. Eh, jadi ceritanya malam ini hujan tuh, aku tiba-tiba jadi inget kamu. Kamu masih benci enggak sama hujan? Kalau aku, masih tetep suka sama hujan. Harusnya sih aku juga benci sama hujan, karena hujan itu yang pertama kali buatku berharap padamu.

Oh ya, aku hanya ingin menuliskan ini. Semoga kamu membacanya ya. Ku fikir ini bisa jadi surat terakhir dari aku. Setelah ini aku hanya ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang kenangan lama itu. Sudah. Aku sudah capek, aku lelah. Dan malam ini, aku sebenarnya rindu sama kamu. Tapi percuma kan? Buat apa aku rindu sama kamu. Toh, rindu kamu udah jatuh ke temen aku sendiri. Lebih tepatnya ke sahabat aku. Iya enggak? :’)

Oke, jadi aku mau bilang ini aja sama kamu. Udah kok itu aja.

Untuk segenap rasa yang sudah mati. Untuk mimpi yang sudah terhapus.
Dan untuk kisah cinta yang kandas.
Lalu apalagi?
Apa aku harus tetap menunggumu? Berharap kamu balik badan dan kembali?

Hello!
Maaf ya semuanya sudah ku buang. Penantian itu kini hanya tinggal sebatas kata yang sebentar lagi juga dihapus hilang.

Nyesel?
Dulu sih iya.
Sekarang enggak kok. Aku bersyukur aja sama Tuhan. Dipertemukan dengan orang yang seperti kamu buatku banyak belajar tentang hal-hal yang selama ini belum pernah kudapati.

Awalnya aku merasa sangat-sangat kehilangan. Tau kalau kamu itu baik, bahkan lebih dari sekedar baik. Kamu adalah tipikal orang yang beberapanya itu ada di list teman masa depanku. Tapi sayang, nyatanya mimpi-mimpi besarku tak bisa seirama dengan mimpi-mimpimu. Katamu aku berlebihan. Tapi bagiku itu adalah suatu keharusan yang harus aku wujudkan. Ditambah frekuensi kita yang enggak sama. Frekuensi ku 40 hz dan frekuensimu ku taksir sepertinya hanya 10 hz saja. Ya sudahlah kamu memang tidak ditaqdirkan untukku. Tapi makasih lho. Sudah mewujudkan beberapa mimpiku. Walau kamu sebenernya enggak pernah tau itu. Terima kasih sudah mau mendengar segala celotehanku, mimpi-mimpiku juga harapan-harapanku. Walau bersamamu nyatanya ada harapan yang harus pupus. Maaf jika selama ini aku menjauh. Aku butuh waktu untuk menerima kebenaran ini. Kebenaran yang sebenarnya sangat sulit untuk bisa aku terima segenap hati. Mengetahui kamu nyatanya memilih sahabatku, rasanya langit nyaris roboh. Dan aku terlempar begitu saja. Tapi ya sudahlah, perasaan tetap perasaan. Tak bisa dipaksa. Perjuangkan saja apa yang kini kamu yakini. Yakin bahwa kamu benar-benar mencintainya, kejar dia. Jangan hiraukan aku. Sekalipun kamu tahu aku sangat terpukul, berlarilah. Aku tahu, seiring waktu aku akan terbiasa, tanpamu yang dulu bak superhiro bagiku. Terima kasih untuk tumpangannya, hujan, topi, kebun teh, pasar, sunrise, dan semua hal yang tak bisa ku ungkap lewat kata.
Aku baik-baik saja. Tenang. Terima kasih ya 🙂

Dari aku yang suka hujan,

Advertisements

Author:

Hello and welcome in my blog! I'm Ihat Azmi. I like reading, writing, and listening a music. I write everything I feel. I'm a student in Galuh University. Pempek is a my favourite food. You can read my writing here. So enjoy in my blog guys!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s