Posted in Fiction

Stick Music

https://pixabay.com/en/drum-sticks-music-drum-instrument-933186/

“Matikan rasa, nyalakan akal.” Katamu buatku berhenti sejenak untuk merenungkan.

Sore. Matahari mulai menyorot dari arah barat. Aku mengusap keringat dengan punggung tanganku yang kini mulai bercucuran dipelipis lalu duduk dipinggiran gedung. Semua santri sudah meninggalkan gedung serbaguna menuju asrama mereka masing-masing menyisakan aku dan beberapa pengurus asrama lainnya yang masih sibuk membereskan gedung sehabis penutupan acara akbar ini.

“Anak-anak bekas stick musik ditaruh dimana aja. Jadinya hilang kan.” Tiba-tiba kamu datang mengomel soal stick alat musik yang hilang entah kemana.

“Udah coba ditanyain ke anak-anak acara?” tanyaku.

“Udah. Katanya dikelas 9 tapi enggak ada, terus bilang lagi dikelas 11 enggak ada juga. Sampai ke kelas 7 gak ada juga.” Jawabmu sambil menggeleng-gelengkan kepala, tak mengerti mengapa stick alat musik saja cepat sekali berpindah tangannya.

“Hebat ya, stick nya bisa move secepat itu.”

“Iya enggak kayak kamu susah move on. Eh,” jawabmu ceplos dengan tangan refleks menutup mulutmu sambil tersenyum.

“Eh?” Kataku sambil tersenyum kaget. “Ya kalau bisa secepat itu mau.”

“Gampang kok, matikan rasa nyalakan akal.” Katamu santai dan aku berfikir keras mencerna ucapanmu.

“Mm.. Itu sih teorinya. Justru yang terjadi akal yang mati dan rasa yang tetap hidup.” Jawabku.

“Tenang. Segala sesuatu juga udah ada kadarnya. Ngapain harus dipaksakan coba? Lepaskan saja biar Tuhan ganti yang lebih dari apa yang udah kamu lepaskan.” Katamu sungguh-sungguh sambil menatap kedua bola mataku buatku gugup seketika.

“Do’akan saja semoga semuanya bisa terlepas tanpa ada sisa lagi.”

“Siipp. Nah gitu dong. Biar enggak mellow lagi.” Katamu lalu pergi meninggalkanku yang kebingungan.

“Matikan rasa nyalakan akal. Mungkin harus kucoba. Bukan mungkin lagi sih tapi harus.” Kataku dalam hati sambil melihat punggungmu yang kini sudah menjauh dari posisiku.

February 13rd, 19

Ihat Azmi

Advertisements