Selama 2018

Hallo hai! Waw tak terasa kini sudah berada dipenghujung 2018 tinggal menunggu beberapa jam lagi kita akan memasuki tahun 2019. Waktu begitu cepat berlalu ya, guys! Tentu harapannya jadi lebih baik lagi dari tahun ini kan?

Yups, sebelum 2018 ini berakhir aku mau review aja soal kejadian-kejadian yang aku alami selama tahun 2018 terutama ditarget aku yaitu menulis!

1. Awal 2018 Target Nulis Di Blog

Masih inget banget pas bulan Januari 2018 aku udah punya tekad buat nulis di blog. Satu hari satu postingan. Tapi apa coba yang aku dapet? Aku rajin nulis diblog pas mepet diakhir-akhir tahun 2018. Miris banget kan?

2. Enggak Konsisten

Kerasa banget enggak konsistennya. Bukan soal nulisnya aja yang enggak konsisten, tapi jenis blog apa yang akan aku gunakan buat nulis aja aku enggak konsisten. Ok, awalnya aku nulis di blogspot terus pindah ke wordpress eh pindah lagi ke blogspot. Dan mulai bulan November lalu aku udah bertekad buat konsisten nulis di wordpress.

3. Masih Nulis Di Buku Diary

Nah, ini nih aku masih nulis dibuku harian alias buku diary. Buku diary aku udah banyak banget dan belum sempet di upload semua ke blog aku ini. You know lah, sayang aja kalau tulisannya bersarang dibuku. Kan kalau di upload di blog bisa dibaca orang banyak. Iya enggak?

4. Ketemu Si Dia Lagi

Ini nih yang bikin aku setengah gila ditahun ini. Aku ketemu dia yang udah lama ninggalin aku. Sebelum dia datang, aku pernah mikir kalau misalkan mau nulis, nulis apa ya? Enggak ada yang menarik. Nah setelah kehadirannya walau sebenarnya itu bikin aku nyesek dan susah move on tapi ada hal yang lebih dari itu! Aku bisa nulis dan berkata-kata. So, I say thanks for coming! I can write well with my feeling.

5. Nulis Dari Hati

Nah selama proses menulis berlangsung kadang terbesit dalam hati dan fikiran, kamu nulis buat apa sih? Biar terkenal? Biar orang-orang tahu kamu penulis? Manusiawi aja ya kalau punya fikiran kayak gitu. Tapi kalau fikiran itu udah mulai mengganggu, buru-buru ku tepis. Inget tujuan awal nulis buat apa? Buat share pengalaman kita ke orang lain biar orang lain belajar dari pengalaman kita. Kita mau terkenal atau dapet duit ya itu bonus. Jangan jadikan itu sebagai prioritas. Berbagi dengan hati maka tulisan pun akan sampai dihati pula.

6. Mulai Daftar Jadi Member Blogger Perempuan Network

Alhamdulillah Allah kasih aku informasi ini dan enggak sampai mikir lama awal Desember kemarin aku memutuskan untuk menjadi member of Blogger Perempuan Network. Semoga bisa saling menginspirasi ya!

So, resolusiku untuk 2019 ini lebih rajin ngeblog lagi! Semangat!

December 31st, 2018

Ihat Azmi

Advertisements

Hanya Ilusi

Maafkan aku

Maafkan aku yang kini kembali menyelami perasaan ini

Perasaan yang telah lama ku tinggalkan

Perasaan yang hanya menyisakkan air mata

Perasaan yang tak tersampaikan

Dan kamu lebih memilih meninggalkan semua

Karena terlanjur sakit yang dihadiahinya

Aku selalu meminta untuk bertemu

Tapi tak kunjung jadi nyata

Entah kamu meminta yang berbeda

Membuat doa kita saling bersebrangan dilangit sana

Aku tahu setiap keinginan selalu ada konsekuensinya

Maka keinginanku adalah lukaku

Dan sayangnya aku terlalu takut untuk mengulang itu semua

Maaf

Maaf jika kamu adalah ilusi yang berhasil kuciptakan

Jika dalam nyata kita tak bisa jumpa

Maka biarkan ingatanku yang merangkai bersamamu

30/12/2018

11.45 pm

Disaat yang ditinggalkan kembali hidup dalam ingatan

Ihat Azmi

Aku Gagal

November 2010

Aku gagal!

Aku gagal hari ini!

Aku nervous, demam panggung dan semua materi yang telah kuhafal jauh-jauh hari mendadak hilang semua.

Aku menatap satu persatu dewan juri yang mencoba untuk memberiku semangat agar aku kembali melanjutkan speechku. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala tak sanggup untuk melanjutkan speech contestku. Lalu aku menatap seluruh audience yang mulai riuh bertepuk tangan membuatku tambah gemetar lagi.

“I think this enough from me. Thanks for your attention. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.”

Hanya pembuka, tanpa isi, dan langsung ku tutup.

Aku langsung berhamburan turun dari podium, lari menuju ayahku yang sedari tadi menyaksikan penampilanku. Aku memeluknya sembari sedikit terisak. Dan semua mata tertuju padaku.

“Tidak usah menangis, kamu hanya perlu latihan yang lebih keras lagi,” ucap Ayah menenangkanku.

📝📝📝

✉️ Kak Iqbal

Ttp smngat ya! Enggak ush nangis. Jdkan pnglaman sbg guru utk kedepannya. Kakak ttp bangga kok sm km! 🙂

Sebuah pesan singkat masuk dari Kakak kelasku itu. Aku tersenyum saat mendapatkan support darinya. Eh sebentar, tapi kok dia tahu dari siapa ya? Diakan enggak hadir pas aku tampil tadi siang.

✉️ Me

Iya kak. Thanks

tp kok kakak tau dr mn?

Blip!

✉️ Kak Iqbal

Iya sm2. Jg nangis ya 🙂 mnang enggaknya suatu perlombaan udh biasa. mnang jd abu klh jd arang kan? Gk ush tnya. Kakak bnyak mata2 nya :p

✉️ Me

yeh! :p

Aku kembali teringat kejadian tadi siang. Memalukan sekali, fikirku. Terbayang olehku besok adalah pengumuman kejuarannya. Aku sudah pasti dinyatakan kalah. Sementara teman-temanku yang lain yang mengikuti perlombaan lain mereka tampil dengan sangat memuaskan. Bagus! Dan pastinya harapan untuk menang itu ada.

Aaahh…

Rasanya aku tak ingin bertemu dengan hari esok!

Di Penghujung Oktober

Di penghujung Oktober 2010

Ada debar yang kurasa setiap kali berhadapan dengan kakak kelasku ini. Debar yang menjalar membuat irama nafasku tak beraturan, tangan yang gemetaran, mulut yang seolah terkunci rapat, dan pandangan mata yang beralih kesana-kemari, sukar bagiku untuk menatapmu.

“Jangan lupa persyaratan lombanya, besok ya.” Ucap kakak kelasku itu mengingatkanku kembali.

“Ini kak persyaratannya,” kataku dikeesokan harinya sembari menyerahkan formulir dan juga persyaratan lomba lainnya.

“Ok, syukran. Semoga sukses.” Balasnya sambil menerima berkas persyaratanku lalu tersenyum manis dan meninggalkanku begitu saja membuatku melongo seperti orang bego.

Hai! Namaku Anisa, usiaku 14 tahun. Abg labil yang masih mencari jati diri.

Ada satu hari yang tak akan pernah kulupa disepanjang hidupku. Hari yang menjadi titik awal mula cerita ini hidup. Hari yang terkadang kusyukuri kehadirannya dalam hidupku namun disisi lain selalu ku sesali karena aku tak pernah menemukan arti hadirmu dihidupku.

Untuk cerita yang tak pernah usai,