Posted in Fiction

Don’t Say, Please!

Jika memang ragu, jangan katakan dan jangan pernah beri harapan.

Ini ajaib menurutku! Tuhan mendengar doaku juga mengabulkannya. Saat aku memiliki niat untuk menikah, Tuhan kirimkan aku seseorang yang ternyata siap untuk menikahiku.

“Target saya menikah adalah tahun ini. Dan saya tak ingin berlama-lama. Saya ingin menikahimu.” Katamu saat kita kencan untuk yang kedua kalinya. Dan itu nyaris membuatku terbang kelangit angkasa.

“Tapi aku masih kuliah.” Kataku.

“Tak masalah. Saya akan tanggung biayanya.” Jawabmu dan itu membuatku sedikit lega.

Hari demi hari kita lalui bersama. Saling bertukar cerita, pengalaman, visi misi kehidupan selanjutnya, dan lain hal kita bicarakan bersama.

Dan aku menceritakan semuanya kepada sahabat dekatku.

“Kamu yakin sama dia?” Tanya sahabatku ragu.

“Memangnya kenapa? Bukankah menikah enggak harus saling mencintai kan? Yang penting ada yang mau sama kita, mau hidup bareng sama kita.” Jawabku enteng. Memang benar aku tak terlalu mencintainya. Kenal hanya baru 1 minggu dan itu pun gara-gara aku men-service handphoneku yang rusak ditempat dia bekerja.

“Bukan masalah cinta atau enggaknya. Tapi kedepannya mau gimana dan seperti apa.” Ucap sahabatku.

“Aku udah omongin jauh-jauh sama dia soal kedepannya seperti apa.”

“Kamu fikir masak-masak lagi deh. Kamu bilang dia anak pertama dan harus mengurusi beberapa adeknya yang masih sekolah. Belum lagi kamu juga bilang dia sekarang jadi tulang punggung keluarganya. Dan dia bilang dia sanggup buat biayain kuliah kamu?” Cerocosnya dan aku hanya diam. “Kamu fikirin lagi deh. Analisis coba pendapatan dia berapa dalam satu bulan. Aku kurang yakin sama ucapannya karena itu terlalu memberikan beban berat buat dia. Kecuali dari sekarang kamu cari kerja buat nambah-nambah biaya kuliah kamu, jadi pas nanti nikah kamu enggak pusing soal biaya kuliah kamu. Gimana kalau misalkan tiba-tiba kuliah kamu berhenti karena dia enggak bisa biayain kuliah kamu? Kamu sendiri yang bilang buat biaya kuliah aja kamu harus berhenti dulu selama 4 tahun untuk mengumpulkan biaya.”

Aku mulai berfikir. Fikirannya udah jauh kedepan padahal umurnya dibawah aku.

“Kata aku sih, omongin lagi baik-baik. Terutama soal pendidikan kamu. Sayang kalau harus terhenti ditengah jalan.” Tambahnya.

Maka tak lama setelah itu aku menceritakan semuanya ke dia kedepannya gimana dan soal aku yang masih pengen tetep kuliah walau sudah menikah. Dia hanya diam saat kutelfon bla..bla..bla.. Bahkan sudah beberapa kali aku mengajaknya untuk kerumah, dia tak pernah kunjung datang: selalu saja ada alasan. Dan tak lama setelah itu dia menghilang entah kemana.

“Udah beberapa minggu ini dia enggak ngasih kabar.” Curhatku.

“Dia pasti ragu sama kamu.” Jawab sahabatku ringan. Dan jawaban ini berhasil menohokku.

“Maksudnya?”

“Iya dia ragu sama keputusannya buat nikahin kamu. Apalagi status kamu sebagai mahasiswi yang nantinya akan menjadi tanggung jawab dia kalau udah nikah. Biasanya kalau udah ngilang kayak gitu ujung-ujungnya dia putusin kamu.” Jawab sahabatku enteng membuatku kesal karena jawabannya benar-benar mengiris hati.

Maafkan saya sudah beberapa minggu tak memberi kabar. Saya sedang memiliki masalah dengan keluarga saya.

Sebuah pesan masuk dan aku hanya memakluminya.


Maaf sekali lagi, saya tak bisa meneruskan semua ini. Kamu sekarang bebas mau nikah dengan siapapun. Silahkan. Terima kasih untuk hari-hari sebelumnya. Semoga mendapatkan pengganti yang lebih dari saya

Pesan baru lagi muncul dan aku hanya diam sekaligus geram.


Mudah sekali mengajakku untuk menikah, lalu setelah tahu semuanya? Kamu campakkan aku?

Beberapa bulan berlalu setelah kamu undur pamit soal urusan keluarga, aku melihat postingan di sosmed milikmu, bahwa kamu telah melamar seseorang yang rupanya tengah selesai menjalani perkuliahan. Ingin rasanya aku banting handphone saat itu.

Kalau kamu belum tahu, cari tahu dulu. Jangan asal kasih harapan. Kalau sudah tahu dan merasa cocok, kamu boleh memulainya.

Untuk sahabatku,

29/07/18

Ihat Azmi

Advertisements

Author:

Hello and welcome in my blog! I'm Ihat Azmi. I like reading, writing, and listening a music. I write everything I feel. I'm a student in Galuh University. Pempek is a my favourite food. You can read my writing here. So enjoy in my blog guys!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s