Posted in Ihat's Diary

Yang Tak Terbalaskan

Aku jatuh cinta padamu yang tak memiliki perasaan yang sama. Lantas bagaimana?

Kabar dariku saja diabaikan, lalu bagaimana dengan rindu yang menggebu-gebu ini?

Aku sudah lelah dan ingin berhenti, tapi mengapa disisi lain aku masih saja mencari?

Aku sadar, sejauh apapun aku pergi nyatanya sepotong hatiku masih tertinggal disana. Dan sialnya lagi aku benci saat semesta berkonspirasi agar aku kembali mengingatmu. Menyebalkan bukan?

“Sama-sama sayang, tetap kuat ya. Jangan mudah jatuh cinta.”

Pesan dari bunda untukku.

Dan malam ini aku harus membunuh rinduku sendiri padamu yang tak pernah terbalas.

Mulai detik ini aku harus kembali belajar melepaskan. Melepaskan segala hal yang saat ini belum berpihak padaku.

Untukmu,

Ihat Azmi

Advertisements
Posted in Ihat's Diary

I Found You

Hai! Setelah seharian ini rasanya dibuat galau karena mikirin kamu *eh dan di saat dititik terjenuh ini justru aku menemukanmu dari sisi yang lain. Buatku jingrak-jingkrak sendiri di kamar. ๐Ÿ˜€

Well, nyatanya kamu cukup ambisius ya untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Dan enggak nyangka nya lagi kamu itu penggila buku. Dari beberapa buku yang kamu baca aku juga pernah membaca buku itu. Pantas saja aku pernah merasakan bahwa kamu itu refleksi atas apa yang selama ini ku baca. Nyatanya ada beberapa buku yang pernah kita baca.

Seneng rasanya dapat info ini. Entah mengapa acap kali mengetahui kabarmu, hidupku rasanya lebih bersemangat lagi.

Hallo! Apa kabar?

Aku kangen!

Dari Tasik yang sedang merindu,

Ihat Azmi

Posted in Ihat's Diary

Si Senyum Sinis

Entah kamu menyadarinya atau tidak dan saat itu aku lupa. Ku kira tulisan tentangmu masih tersimpan dalam draft nyatanya sudah ku posting dan berada di urutan teratas. Aku hanya diam dan juga harap-harap cemas saat kamu membacanya dan menscrol sampai bawah.

Hai, hari ini aku pulang. Genap sudah 30 hari ini. Ku kira kamu akan datang ke stasiun, mengantarku pulang lalu say good bye. Nyatanya kamu disana tak mengantarku. Tahu begitu pagi tadi mungkin aku takkan menyia-nyiakan percakapan singkat kita. Sayangnya, diakhir kamu malah mengabaikan ku.

Mulai besok aku takkan lagi melihatmu makan sahur didepan pintu dapur, takkan lagi melihatmu yang selalu berlalu lalang di depan kelas pagi membuatku selalu tersenyum acap kali melihatmu, atau melihatmu menggunakan baju koko berjalan terburu-buru menuju Harvard room untuk sholat. Mungkin aku akan rindu dengan panggilanmu, “Ukh ukh atau us us.”

Aku suka saat melihatmu bercerita. Melihat matamu yang berbinar lalu ditengah-tengah pembicaraan kamu akan tersenyum sinis menampilkan deretan gigi kecilmu yang rapih. Buatku hmm.. Menahan greget. Atau melihatmu makan dengan lahap. Atau barang kali melihat penampilanmu yang kusut karena belum mandi.

“Have you taken a bath sir?” Tanyaku saat kamu melintas dihadapan kita semua.

“Yes I have,” jawabmu lambat sambil berlalu meninggalkan senyum sinismu.

Atau enggak tawa lepasmu selepas meledekku di acara bakar jagung. Aku kaget bukan main melihatmu tertawa lepas seperti itu. Aahh.. Pokoknya I will miss you sir. Berharap sama Allah pengen ketemu lagi pokoknya. Titik.

Hai terima kasih. Terima kasih karena telah membakar kembali semangatku dalam menggapai mimpi-mimpi.

Kereta menuju perjalanan Tasikmalaya,

Ihat Azmi

Posted in Puisi

Bagiku

Bagiku ini bukan konspirasi alam semesta sebagaimana yang diabadikan oleh Fiersa Besari.

Bagiku sore kemarin hanyalah sebuah konspirasi teman-teman semua. Hanya demi membuatku bahagia.

Dan kamu melakukannya karena tuntutan pekerjaan. Demi menyenangkan tamu, bukan begitu?

Kamu tahu?

Aku tak pernah memaksa.

Dan aku tak bisa seagresif temanku yang lain.

Mencoba menjadi orang lain berat ternyata dan aku tak bisa.

Hai! Kamu nyatanya masih menjadi senja bagiku. Sampai kapanpun kamu hanya akan menjadi senja bagiku. Menyakitkan memang semua ini.

The last day in Pare

Mei, 27th 2019

Posted in Ihat's Diary

Aku Bercerita

Pare, 13 Mei 2019

Bertemu denganmu, berbincang denganmu walau itu hanya beberapa detik, lalu melihatmu dari jarak dekat kini menjadi candu bagiku. Ingin lagi, lagi, dan lagi. Dan tentangmu kini sudah mengisi dalam sebuah lagu yang jika diputar maka otak dan hatiku langsung tertuju padamu.
Hai kamu! Yang awalnya aku sangat membencimu setengah mati, kini mulai menggerogoti bagian hatiku yang lain. Bahkan aku tak mengerti mengapa setiap bertemu denganmu jantungku berdegup cepat bahagia.
Ya Tuhan, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi jatuh cinta tapi mengapa perasaan ini muncul begitu saja? Mengapa? Aku tahu konsekuensi dari jatuh hati adalah patah hati. Dan aku sudah patah hati diawal cerita ini berjalan. Fakta bahwa nyatanya dia akan segera menikah.
Ya sudahlah, aku hanya bisa nyengir menahan pilu dihati. Nasibku begini amat yaa.
Tapi disisi lain aku menikmati perasaan ini. Perasaan yang aku pendam dalam hati dan biar semuanya melebur menjadi debu yang nantinya akan bertebaran bersama angin yang membawanya. Jika memang sudah digariskan, bisakah kamu menolak? Kalau pun tidak, yo wes. Nda apa-apa. Bisa jadi ada hal lain yang sedang menantiku dibelahan bumi sana. Keep positive thinking aja. The best of your is saat kamu pasrah dengan ketentuanNya. Bukan begitu mister? Hahaa. Versiku begini Allah is the best planner.
Maafkan aku yang lancang tiba-tiba menaruh hati padamu. I swear, I never plan for finding someone who can make me fall in love here. No. But, can you decide when you fall in love? It isn’t right?
I know, this is just no forever. Everything can be changed. Am I right?

Ya Allah entah aku harus bersyukur atau bersabar, saat doaku untuk bertemu dengannya selalu dikabulkan. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Hai Mr. I just have 14 days here. And today, I feel very happy when I see you although so far hmm. You weared green skirt. So handsome. Aaaaa ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

Posted in Ihat's Diary

Tasikmalaya, March 27, 2019

Dear diary,

Entah hari keberapa dari kebenaran itu terungkap. Aku masih saja sulit untuk menerimanya. Aku harus bagaimana? Rasanya menyakitkan sekali. aku seperti kehilangan segalanya. Tapi disisi lain aku harus bisa mengendalikan isi hatiku, emosiku, juga kecewaku. Aku ingin menangis, tapi entah mengapa rasanya sulit begitu. Sadar, diantara kita masih bermain kata juga rahasia. Kamu yang enggan menyakiti perasaanku juga sahabatku yang entah polos atau memang benar-benar polos masih tak bisa menjaga perasaanku.

Aku harus bagaimana? Rasanya pertanyaan ini yang terus menghantuiku. Kalian tahu? Setiap malam adalah hal yang paling mengerikan bagiku. Mimpi-mimpi itu sering datang menghantui. Lalu kala mentari menyapa nyatanya aku enggan untuk beranjak. Karena mimpi-mimpiku semalaman itu seolah mewujudkannya tepat didepan mataku. Dan aku belum siap untuk menerima semua kenyataannya.

Tuhanku, salahkah jika aku masih sulit untuk menerima kebenaran ini? Menerima ketentuan-Mu ini? Aku hanya ingin berlari meninggalkan semua kenangan buruk ini. Menyaksikan mereka kompak dimedia sosial rasanya aku ingin memblokir keduanya. I hate them! And I hate myself ๐Ÿ˜ฅ

Dan aku kembali lagi rapuh! Puas? Belum lagi tangisku yang sulit untuk bisa ku bagi. Semuanya masih mengendap dalam hati yang paling dalam. Duluยธhari-hari ini selalu kunanti tapi kini hari-hari tersebut yang selalu aku ingin hindari. Sesak, perih, juga kecewa. Semuanya bercampur dan menyayat-nyayat hati. Shit!

Aku merasa saat ini sedang berada dititik terbawah dalam hidupku. Help me please to find out the solutions. I just wanna run away. Iโ€™m tired, Iโ€™m dissampointed. And Iโ€™m weak.

Harus dengan cara apalagi agar rasa kecewaku bisa tersampaikan? Harus dengan cara apalagi? Semoga kesempatan itu datang. Padaku juga padamu. Untuk saling merelakan atas hal yang telah digariskan-Nya.

Hanya saja aku belum siap untuk bertemu denganmu. Itu saja. Aku masih perlu waktu untuk bisa kembali bertatap muka denganmu.

Untuk diri yang terus diuji,