Posted in Ihat's Diary

Tasikmalaya, March 27, 2019

Dear diary,

Entah hari keberapa dari kebenaran itu terungkap. Aku masih saja sulit untuk menerimanya. Aku harus bagaimana? Rasanya menyakitkan sekali. aku seperti kehilangan segalanya. Tapi disisi lain aku harus bisa mengendalikan isi hatiku, emosiku, juga kecewaku. Aku ingin menangis, tapi entah mengapa rasanya sulit begitu. Sadar, diantara kita masih bermain kata juga rahasia. Kamu yang enggan menyakiti perasaanku juga sahabatku yang entah polos atau memang benar-benar polos masih tak bisa menjaga perasaanku.

Aku harus bagaimana? Rasanya pertanyaan ini yang terus menghantuiku. Kalian tahu? Setiap malam adalah hal yang paling mengerikan bagiku. Mimpi-mimpi itu sering datang menghantui. Lalu kala mentari menyapa nyatanya aku enggan untuk beranjak. Karena mimpi-mimpiku semalaman itu seolah mewujudkannya tepat didepan mataku. Dan aku belum siap untuk menerima semua kenyataannya.

Tuhanku, salahkah jika aku masih sulit untuk menerima kebenaran ini? Menerima ketentuan-Mu ini? Aku hanya ingin berlari meninggalkan semua kenangan buruk ini. Menyaksikan mereka kompak dimedia sosial rasanya aku ingin memblokir keduanya. I hate them! And I hate myself 😥

Dan aku kembali lagi rapuh! Puas? Belum lagi tangisku yang sulit untuk bisa ku bagi. Semuanya masih mengendap dalam hati yang paling dalam. Dulu¸hari-hari ini selalu kunanti tapi kini hari-hari tersebut yang selalu aku ingin hindari. Sesak, perih, juga kecewa. Semuanya bercampur dan menyayat-nyayat hati. Shit!

Aku merasa saat ini sedang berada dititik terbawah dalam hidupku. Help me please to find out the solutions. I just wanna run away. I’m tired, I’m dissampointed. And I’m weak.

Harus dengan cara apalagi agar rasa kecewaku bisa tersampaikan? Harus dengan cara apalagi? Semoga kesempatan itu datang. Padaku juga padamu. Untuk saling merelakan atas hal yang telah digariskan-Nya.

Hanya saja aku belum siap untuk bertemu denganmu. Itu saja. Aku masih perlu waktu untuk bisa kembali bertatap muka denganmu.

Untuk diri yang terus diuji,

Advertisements
Posted in Surat

Surat Terakhir

Dear kamu yang tak suka hujan,

Hai!

Apa kabar? Lama tak bersua dengan kata. Kabarku baik. Eh, jadi ceritanya malam ini hujan tuh, aku tiba-tiba jadi inget kamu. Kamu masih benci enggak sama hujan? Kalau aku, masih tetep suka sama hujan. Harusnya sih aku juga benci sama hujan, karena hujan itu yang pertama kali buatku berharap padamu.

Oh ya, aku hanya ingin menuliskan ini. Semoga kamu membacanya ya. Ku fikir ini bisa jadi surat terakhir dari aku. Setelah ini aku hanya ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang kenangan lama itu. Sudah. Aku sudah capek, aku lelah. Dan malam ini, aku sebenarnya rindu sama kamu. Tapi percuma kan? Buat apa aku rindu sama kamu. Toh, rindu kamu udah jatuh ke temen aku sendiri. Lebih tepatnya ke sahabat aku. Iya enggak? :’)

Oke, jadi aku mau bilang ini aja sama kamu. Udah kok itu aja.

Untuk segenap rasa yang sudah mati. Untuk mimpi yang sudah terhapus.
Dan untuk kisah cinta yang kandas.
Lalu apalagi?
Apa aku harus tetap menunggumu? Berharap kamu balik badan dan kembali?

Hello!
Maaf ya semuanya sudah ku buang. Penantian itu kini hanya tinggal sebatas kata yang sebentar lagi juga dihapus hilang.

Nyesel?
Dulu sih iya.
Sekarang enggak kok. Aku bersyukur aja sama Tuhan. Dipertemukan dengan orang yang seperti kamu buatku banyak belajar tentang hal-hal yang selama ini belum pernah kudapati.

Awalnya aku merasa sangat-sangat kehilangan. Tau kalau kamu itu baik, bahkan lebih dari sekedar baik. Kamu adalah tipikal orang yang beberapanya itu ada di list teman masa depanku. Tapi sayang, nyatanya mimpi-mimpi besarku tak bisa seirama dengan mimpi-mimpimu. Katamu aku berlebihan. Tapi bagiku itu adalah suatu keharusan yang harus aku wujudkan. Ditambah frekuensi kita yang enggak sama. Frekuensi ku 40 hz dan frekuensimu ku taksir sepertinya hanya 10 hz saja. Ya sudahlah kamu memang tidak ditaqdirkan untukku. Tapi makasih lho. Sudah mewujudkan beberapa mimpiku. Walau kamu sebenernya enggak pernah tau itu. Terima kasih sudah mau mendengar segala celotehanku, mimpi-mimpiku juga harapan-harapanku. Walau bersamamu nyatanya ada harapan yang harus pupus. Maaf jika selama ini aku menjauh. Aku butuh waktu untuk menerima kebenaran ini. Kebenaran yang sebenarnya sangat sulit untuk bisa aku terima segenap hati. Mengetahui kamu nyatanya memilih sahabatku, rasanya langit nyaris roboh. Dan aku terlempar begitu saja. Tapi ya sudahlah, perasaan tetap perasaan. Tak bisa dipaksa. Perjuangkan saja apa yang kini kamu yakini. Yakin bahwa kamu benar-benar mencintainya, kejar dia. Jangan hiraukan aku. Sekalipun kamu tahu aku sangat terpukul, berlarilah. Aku tahu, seiring waktu aku akan terbiasa, tanpamu yang dulu bak superhiro bagiku. Terima kasih untuk tumpangannya, hujan, topi, kebun teh, pasar, sunrise, dan semua hal yang tak bisa ku ungkap lewat kata.
Aku baik-baik saja. Tenang. Terima kasih ya 🙂

Dari aku yang suka hujan,

Posted in Puisi

Kecewa

Ada sesak didada saat aku mengetahui kebenaran ini

Kebenaran yang tak bisa ku sangkal

Kebenaran yang tak bisa ku tutupi lagi

Hatimu yang nyatanya jatuh kedalam pelukannya

Hatimu yang nyatanya tak pernah dipersembahkan untukku

Tuhanku

Bolehkah aku kecewa atas jalan ini?

Pantaskah aku jika menyalahkan skenario-Mu?

Apakah aku selama ini salah?

Terlalu berharap padanya? Bukan padaMu?

March 24th, 2019

Ihat Azmi

Posted in Ihat's Diary

Jadi hari ini aku benar-benar menemukan dirimu begitu terpuruk. Tak apa kan aku menyebutnya begitu? Kamu yang biasanya selalu nampak dewasa dari aku, hari ini kamu jauh berubah bak anak kecil yang tak bisa membeli sebuah balon. Kamu yang biasanya bisa meredam amarahmu, tiba-tiba kamu upload kemarahanmu di media sosial menyisakan tanda tanya bagi orang-orang disekelilingmu.

Ada apa denganmu?

Aku berusaha mencairkan suasana, melupakan sejenak permasalahan diantara kita. Tapi jawabmu,

Never better.

Lalu aku harus bagaimana? Sementara kamu enggan bercerita padaku.

Masih saja ditahan? Jika dengan berbagi sebenarnya bisa meringankan? Ihat Azmi

Tapi ya sudahlah, itu keputusanmu.

Bahkan hubunganku dengan dia kini berubah menjadi asing. Sayang ya, yang dulunya dekat tiba-tiba harus menjauh demi meredam harapan.

Oh iya satu lagi.

Setelah aku tak sengaja membaca media sosialnya, tiba-tiba sama dia nya dihapus. Hihii!

Tuh kan tebakanku benar, permintaan maaf itu ditujukan buat aku kan? Hahaaa. Ya sudahlah aku memang sudah kegeeran tingkat dewa.

Yup, selamat malam!

Dari aku yang lagi patah gigi,

Ihat Azmi

Posted in Ihat's Diary

Hai!

Rasanya malam ini aku hanya ingin memeluk segala keresahanku, memeluk rasa sepiku, memeluk kesedihanku, memeluk rasa kecewaku.

Menulis adalah bagian dari proses pendewasaan diri. Menulis adalah salah satu cara terapi untuk diriku sendiri. Jika bercerita masih saja buatmu resah, maka bagiku menulis bisa menghilangkan segala beban yang menyiksa.

Aku nyaman berada disini. Terhindar dari like, comment, ataupun share. I can write everything and what I feel.

Ok. Aku tak mampu bercerita lagi. Nyatanya kita tak pandai untuk membuka luka kita masing-masing. Lebih tepatnya membuka lukaku, membuka rasa bersalahmu. Bukan begitu? Yang jadi pertanyaannya, kamu ngerasa enggak sih kalau itu ditujukan buat kamu? Kalau iya, nah lantas kenapa kamu balasnya di tempat yang sama? Permintaan maaf yang tanpa kamu sebutkan itu buat siapa. Aku faham. Bukannya aku kegeeran sih, itu buat aku kan? Kamu masih ngerasa bersalah kalau aku masih saja menulis tentang kita?

Common! Aku enggak senaif itu. Aku udah maafin kamu dari zaman dulu juga. Please! Diantara kita emang enggak ada yang salah. Aku yang suka kamu tapi kamu suka dia dan dia yang masih anggap kamu teman. Begitu? Dan dia yang kumaksud itu teman dekatku. Ayolah. Aku begini adanya. Kalau sekiranya cerita-cerita aku bikin kamu terus-terusan merasa bersalah dan enggak nyaman, take it easy. Block akunku sekalian biar kamu enggak bisa intip-intip keseharian aku disana, celotehan aku disana.

Kemarin sebenarnya aku pancing kamu biar jujur sama aku, nyatanya kamu berbelit-belit kan? Kamu mau bermain kata denganku? Ayo! Siapa takut. Lha nyatanya kebenaran itu datang sendiri kan? Kamu pura-pura enggak tahu atau sebenarnya kamu udah tahu ceritanya dari awal? Aku bingung sama kamu. Niat enggak ingin nyakitin aku, tapi kalau main belakang tetep itu lebih menyakitkan.

Ayolah kita udah bukan anak SMA lagi yang main backstreet. Untuk apa gunanya komunikasi kalau begini caranya? Tenang kok, aku enggak akan marah. Kalau kecewa itu urusan lain lagi. Kamu pasti faham kan?

Untuk kamu yang masih berbelit-belit,

Ihat Azmi